Penjelasan Ahli Bahasa Soal Istilah Pelakor

Saungmaman.com - Penjelasan Ahli Bahasa Soal Istilah Pelakor

Belakangan ini muncul istilah baru yang menyebar begitu luas di masyarakat. Istilah yang dimaksud adalah "Pelakor" yaitu singkatan dari "Perebut Lelaki Orang".

Istilah ini diidentikan dengan perbuatan seorang wanita yang memancing keretakan rumah tangga orang lain, karena merebut suami orang dari istri sahnya.

Istilah Pelakor

Menurut seorang ahli bahasa, Ivan Lenin, munculnya istilah atau kosakata baru seperti pelakor di media sosial bukanlah sesuatu yang aneh. Istilah seperti curhat, curcol dan baper juga awalnya muncul dikalangan tertentu yang kemudian menyebar luas kemana-mana.

Namun menurut beliau, istilah pelakor berkesan terlalu negatif, karena terlalu menyudutkan perempuan dan seolah-olah hanya kaum perempuan yang bersalah. Padahal istilah Wanita Idaman Lain atau WIL lebih bisa diterima karena berkesan lebih netral.

Ketika kita bicara istilah pelakor, maka terkesan tidak netral, sebab kita memvonis kaum perempuan sebagai pelaku perebut lelaki orang yang menyebabkan retaknya sebuah rumah tangga. Padahal, perselingkuhan melibatkan kedua belah pihak yaitu lelaki dan perempuan.

Sementara bila kita menyebut istilah WIL maka konotasinya adalah seorang lelaki yang mengidamkan wanita lain selain istrinya.
Baca juga: Tips Menghindari Prasangka Buruk 
Sementara itu menurut ahli bahasa yang lain, Junaiyah H.M., menjelaskan bahwa istilah perebut, pengambil atau pencuri lelaki orang mengesankan bahwa yang diambil, dicuri atau direbut itu pasif, yang aktif itu pelaku. Padahal pada kejadian tersebut keduanya adalah pelaku aktif dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa istilah pelakor, pebinor (perebut bini orang) dan letise (lelaki tidak setia) harus ditempatkan dan dipakai sesuai kenyataan yang ada.

Bahasa Indonesia memang memiliki ragam kosakata yang mirip dengan istilah pelakor, seperti wanta idaman lain, sundal atau perempuan nakal. Semua menempatkan wanita sebagai objek yang selalu di salahkan. Disini terjadi ketimpangan gender yang seharusnya tidak boleh terjadi. Bijaklah dalam menempatkan sesuatu agar tidak merugikan salah satu pihak.
Baca juga: Introspeksi Diri, Wujud Nyata Sikap Ksatria
Munculnya istilah pelakor yang mirip dengan kata-kata yang sudah lama ada, ini menandakan bahwa istilah semacam ini bersipat musiman, dan tidak akan berlangsung lama. Istilah-istilah ini akan terus muncul dan hanya waktu  yang akan menentukan berapa lama ia bertahan.

Namun umumnya, istilah-istilah semacam ini akan sirna dengan sendirinya. Masih ingat dengan istilah "jayus" yang artinya 'tidak lucu'? Orang akan mengingat istilah tersebut di zaman mereka. Dan kemudian di masa sekarang bila dikenang, mereka akan mengingatnya sambil tertawa-tawa...

Demikianlah artikel Saung Maman mengenai Penjelasan Ahli Bahasa Soal Istilah Pelakor kali ini, semoga bermanfaat.

Advertisement
Penjelasan Ahli Bahasa Soal Istilah Pelakor

You Might Also Like:

Buka Komentar